Proposal

Proposal adalah bentuk rancangan kegiatan yang dibuat secara formal dan standar ada banyak jenis contoh proposal, diantaranya adalah

  1. Proposal kegiatan (kegiatan seni, kegiatan event organizer)
  2. Proposal usaha (usaha warnet, usaha loundry, usaha komputer)
  3. Proposal penelitian (format kajian pustaka, penelitian kualitatif, kuantitatif)

Sistematika penulisan proposal kegiatan secara umum adalah diantaranya harus ada:

  1. Pendahuluan
  2. Dasar pemikiran
  3. Tujuan
  4. Tema
  5. Jenis Kegiatan
  6. Target
  7. Sasaran peserta
  8.  Waktu dan tempat pelaksanaan
  9. Anggaran dana
  10. Susunan kepanitiaan
  11. Jadwal kegiatan

 

Contoh Proposal :

PEMBUATAN DATA BASE SISWA
PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 15 JAKARTA

1. Latar Belakang

Perkembangan bidang teknik informatika saat ini memungkinkan semua bidang kehidupan manusia dapat semakin ringan dikerjakan dengan bantuan komputer. Demikian halnya dengan pengelolaan data siswa di sebuah sekolah. Dengan menggunakan perangkat lunak data base, data siswa dapat diakses dengan cepat oleh kepala sekolah, guru BP, atau orang tua siswa dengan bantuan komputer.Untuk dapat menyelesaikan belajar pada SMK Jakarta, mulai tahun pelajaran 2008/2009 siswa diharuskan membuat tugas akhir berupa suatu produk yang layak jual atau layak pakai. Kegiatan ini dipakai sebagai ujian kompetensi. Sehingga profil kompetensi lulusan SMK Jakarta dapat dilihat secara langsung pada bentuk tugas akhir yang dikerjakannya.

Dari kedua hal diatas, kami sebagai siswa kelas 3 SMK Jakarta Program Keahlian Teknik Informatika bermahsud membuat Tugas Akhir dengan judul Pembuatan Data Base Siswa Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 15 Jakarta.

2. Alasan Pemilihan Judul

Kami memilih judul tersebut karena beberapa alasan, antara lain :
a. Kompetensi Pembuatan Data Base merupakan salah satu kompetensi yang dipelajari di Program Keahlian Teknik Informatika SMK Jakarta.
b. Program Data Base Siswa sangat diperlukan di Sekolah yang dapat digunakan untuk mengetahui secara cepat data-data tentang siswa.

3. Tujuan Pembuatan Tugas Akhir.
a. Memenuhi salah satu persyaratan untuk dapat menyelesaikan belajar di SMK Jakarta.
b. Mengaktualisasikan diri sebagai tenaga teknik informatika tingkat menengah.

4. Jenis Kegiatan.
    a. Proyek, menghasilkan suatu produk data base siswa.
b. Perseorangan, dikerjakan sendiri dengan bimbingan guru.

5. Strategi Pelaksanaan.
    Pelaksanaan Tugas Akhir ini melalui strategi atau tahapan sebagai beikut :
a. Mengadakan pendekatan ke pihak sekolah.
b. Meminta ijin ke sekolah.
c. Pengumpulan data.
d. Pembuatan design data base dan tampilan.
e. Memasukkan data (data entry).
f.  Uji coba.
g. Perbaikan.
h. Pemasangan program pada komputer sekolah.
i.  Pelatihan bagi operator data base di sekolah.
j.  Pembuatan buku tugas akhir.
k. Presentasi di muka penguji.

6. Waktu dan tempat.
a. Waktu  : 25 Januari 2009 s/d 17 April 2009.
b. Tempat : SMPN 15 Jakarta.

7. Pelaksanaan

  1. Pemilihan judul
  2. Konsultasi dengan Pembimbing
  3. Pengumpulan Data
  4. Pembuatan Design data base
  5. Memasukkan data
  6. Uji coba dan perbaikan
  7. Pemasangan program pada komputer
  8. Pelatihan operator di sekolah
  9. Pembuatan buku akhir sekolah
  10. Presentasi
  11. Revisi buku akhir sekolah

8. Pendanaan

 

No

Kegiatan / Barang

Jumlah

Biaya satuan

Total Biaya

Keterangan

1.

Pembuatan Proposal

3 buah

Rp    5.000,00 Rp        15.000,00

2.

Pembelian Buku Microsoft Acces

1buah

Rp   30.000,00 Rp        30.000,00

3.

Transport

16 kali

Rp     4.000,00 Rp        64.000,00

4.

Pembuatan Buku Tugas Akhir

3 buah

Rp   20.000,00 Rp        60.000,00

5.

Disket

2 buah

Rp     4.000,00 Rp          8.000,00

6.

Sewa Komputer

60 jam

Rp     1.000,00 Rp        60.000,00

7.

Perlengkapan presentasi Tugas Akhir

1 unit

Rp   25.000,00 Rp        25.000,00

8.

Lain-lain Rp        28.000,00

J u m l a h

Rp      280 .000,00
(dua ratus delapan puluh ribu rupiah)
By Denny Abdul Basit Posted in KuLiah

Pengertian dan Penyusunan Laporan

Laporan adalah karangan yang berisikan paparan peristiwa/kegiatan yang telah dilakukan.
Laporan dapat berupa laporan perjalanan, laporan kegiatan atau laporan pengamatan.
Topik laporan adalah pokok yang dibicarakan atau dibahas dalam laporan.

Menurut F X Soedjadi, laporan didefinisikan sebagai :

Suatu bentuk penyampaian berita, keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban baik secara lisan maupun tulisan dari bawahan kepada atasan sesuai dengan hubungan wewenang ( authority ) dan tanggung jawab ( responsibility ) yang ada antara mereka.

Ciri laporan yang baik :

  1. Ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas.
  2. Didasarkan oleh fakta yang benar dan meyakinkan.
  3. Disajikan secara lengkap.
  4. Menarik dan enak dibaca.

Jenis-jenis Laporan

Laporan terbagi menjadi dua, yaitu Laporan Lisan dan Laporan Tertulis.
Contoh laporan lisan :

  1. Laporan Berita
  2. Laporan Langsung

Contoh laporan tertulis :

  1. Laporan Tahunan
  2. Laporan Khas
  3. Laporan Prestasi
  4. Laporan Sulit
  5. Laporan Kajian
  6. Laporan Penilaian
  7. Laporan Aktiviti

Kerangka laporan :

1. Pendahuluan

  • Berisi latar belakang sebuah kegiatan dilaksanakan.

2. Isi laporan

  • Berisi rincian kegiatan yang dilakukan beserta hasilnya.
  • Kegiatan yang dilaporkan lengkap dengan nama, tempat, waktu, dan orang yang terlibat dalam kegiatan.

3. Penutup

  • Berisi kesimpulan dari laporan.

4. Laporan diakhiri dengan identitas pembuat laporan.

Penyusunan Laporan

Isi laporan hendaknya lengkap yaitu menjawab semua pertanyaan dibawah ini :

1. Apa ( What ? )

2. Mengapa ( Why ? )

3. Siapa ( Who ? )

4. Dimana ( Where ? )

5. Kapan ( When ? )

6. Bagaimana ( How ? )

Tahap-tahap Dasar Pembuatan Laporan

1. Tahap Persiapan

Pada tahap awal ini harus terjawab beberapa pertanyaan penting seperti hal apa yang akan dilaporkan. Dengan terjawabnya beberapa pertanyaan, maka akan dapat dirumuskan secara jelas latar belakang dan masalah laporan, tujuan laporan, target waktu laporan, data yang relevan untuk disajikan, dan sumber-sumber data.

2. Pengumpulan dan Penyajian Data

Dalam proses pengumpulan harus selalu mengacu pada permasalahan dan tujuan yang telah ditetapkan. Baik sumber primer maupun sumber sekunder. Setelah dikumpulkan,  data itu dikelompokkan  menjadi bahan utama dan data pendukung atau penunjang.

3. Sistematika Laporan

Menentukan bagian-bagian utama laporan atau lazim, kemudian sub-sub bagian laporan yang nantinya akan dijabarkan lebih lanjut dalam kalimat – kalimat.

4. Penulisan Laporan

Pada tahap penulisan laporan harus mengacu pada sistematika yang telah ditetapkan sehingga laporan tersebut dapat tersaji secara runtut, mudah dipahami, dan enak dibaca.

By Denny Abdul Basit Posted in KuLiah

Abstraksi pada Karya Ilmiah

1. Pengertian umum

Abstrak merupakan penyajian singkat mengenai isi tulisan sehingga pada tulisan ia menjadi bagian tersendiri. Abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat kepada pembaca tentang apa yang terdapat dalam suatu tulisan. Pada umumnya abstrak diletakkan pada bagian awal sebelum bab-bab penguraian. Untuk makalah, biasanya abstrak itu hanya terdiri dari satu atau dua paragraf saja. Sementara itu untuk thesis dan tugas akhir, abstrak biasanya dibatasi satu halaman. Untuk itu isi dari abstrak tidak perlu “berbunga-bunga” dan berpanjang lebar, cukup langsung kepada intinya saja. Memang kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana merangkumkan semua cerita dalam satu halaman.

 

2. Jenis-jenis Abstrak

Abstrak diklasifikasikan dalam dua jenis berikut ini.

1. Abstrak indikatif adalah abstrak yang menyajikan uraian secara singkat mengenai masalah yang terkandung dalam laporan atau karya ilmiah lengkapnya. Abstrak indikatif bertujuan agar pembaca mengetahui isi informasi tanpa memadatkan isi informasi aslinya dan hanya memberikan indikasi sasaran cakupan tulisan. Maka, pembaca dapat mempertimbangkan apakan tulisan asli perlu dibaca atau tidak.

2. Abstrak informatif adalah miniatur laporan atau karya ilmiah asli dengan menyajikan data dan informasi secara lengkap sehingga pembaca tidak perlu lagi membaca tulisan aslinya, kecuali untuk mendalaminya. Dalam abstrak informatif, disajikan keseluruhan tulisan asli dalam bentuk mini. Seperti, judul, penulis, institusi, tujuan, metode dan analisis laporan, hasil penelitian, dan simpulan.

 

3. Karakteristik Abstrak

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan abstrak adalah sebagai berikut.

  1. Abstrak disajikan secara singkat, terdiri atas 200 s.d. 300 kata atau sekitar 7 s.d. 10 paragraf dan diletakkan sebelum daftar isi.
  2. Abstrak tidak memuat latar belakang, contoh, penjelasan berupa alat, cara kerja, dan proses yang sudah dikenal atau lazim.
  3. Abstrak hanya memuat metode kerja dari pengumpulan data sampai penyimpulan dan data yang sudah diolah.
  4. Dalam penyusunan abstrak, perlu diperhatikan ketelitian penyajian sumber informasi asli secara cermat, mudah dipahami, dan menggunakan kata atau istilah yang sama dengan tulisan aslinya.
  5. Pengetikan berspasi satu, menggunakan tipe tulisan standar Times New Roman atau Arial, dengan ukuran tulisan 12 pt.

 

4. Penyusunan Abstrak

Ini sebagian dari review saya terhadap hasi penelitian yang sudah jadi. Kebanyakan abstrak di susun atas ‘jumlah bab’ pada laporan penelitian.

Jika suatu laporan penelitian terdiri dari 5 bab:

  1. Pendahuluan.
  2. Kajian pustaka.
  3. Metodologi.
  4. Analisis dan Pembahasan.
  5. Penutup.

Maka hendaknya menulis abstrak sebagai berikut :

  1. Paragraf pertama ringkasan dari Latar belakang/Pendahuluan.
  2. Paragraf kedua ringkasan dari Kajian Teori.
  3. Paragraf ketiga ringkasan dari Metodologi.
  4. Paragraf keempat ringkasan dari Analisis dan Pembahasan.
  5. Paragraf kelima ringkasan dari Penutup/Kesimpulan dan Saran.

 

 

source :

http://www.anneahira.com/abstrak-adalah.htm

http://hubbul.blogspot.com/2008/06/abstrak-pada-karya-ilmiah.html

By Denny Abdul Basit Posted in KuLiah

Teknik Metode Ilmiah

1. TEKNIK OBSERVASI

Observasi adalah pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang dilakukan. Pada waktu melakukan observasi, analis sistem dapat ikut berpartisipasi, atau hanya mengamati saja orang-orang yang sedang melakukan suatu kegiatan tertentu yang diobservasi.
Analis tidak hanya sekedar datang dan mulai mencatat semua yang dilihatnya, tetapi analis harus menjaga supaya orang yang diamati pekerjaannya tidak merasa terganggu. Analis harus dapat menentukan periode waktu observasi yang tepat, sehingga observasi dapat mewakili pekerjaan-pekerjaan khusus yang tidak selalu dilakukan serta dapat mewakili volume-volume normal dan puncak dari pekerjaan tersebut.

Kelebihan teknik observasi yaitu :

  1. Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi.
  2. Penganalisis melalui observasi dapat melihat langsung apa yang sedang dikerjakan. Pekerjaan -pekerjaan yang rumit kadang – kadang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Melalui observasi, penganalisis dapat mengidentifikasikan kegiatan – kegiatan yang tidak tepat yang telah digambarkan oleh teknik pengumpulan data yang lain.
  3. Dengan observasi, penganalisis dapat menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan, misalnya tata letak fisik perlatan, penerangan, gangguan suara, dsb.

Kekurangan teknik observasi yaitu :

  1. Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaanya dengan tidak semestinya.
  2. Pekerjaan yang sedang diobservasi mungkin tidak dapat mewakili suatu tingkat kesulitas pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu dilakukan.
  3. Observasi dapat mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan.
  4. Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari biasanya dan sering menutupi kejelekannya.

Jenis-Jenis Observasi

  1. Controlled observation (Observasi terstruktur) adalah suatu observasi yang prosedur dan pelaksanannya sangat ketat dan biasanya dibantu dengan alat-alat yang peka, dan dalam lembar observasinya dipergunakan proses kontrol yang memungkinkan observasi untuk dilakukan kembali.
  2. Uncontrolled observation (observasi tidak terstruktur) diartikan sebagai suatu proses observasi yang dilakukan secara spontan terhadap suatu gejala tertentu tanpa mempergunakan alat-alat yang peka atau pengontrolan kembali atas ketajaman hasil observasi tadi.

 

2. TEKNIK WAWANCARA

Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.

Wawancara berdasarkan cara pelaksanaannya dibagi dua yaitu :

  1. Wawancara berstruktur adalah wawancara secara terencana yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
  2. Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan.

Kelebihan metode wawancara yaitu :

  1. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.
  2. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
  3. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.

Kelemahan metode wawancara yaitu :

  1. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
  2. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
  3. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.
  4. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer.

 

3.  TEKNIK KUESIONER

Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.

Dengan menggunakan kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.

Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner adalah

  1. Pertanyaan Terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa diterjemahkan dengan benar.
  2. Pertanyaan Tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup pilihan-pilihan respons yang tersedia bagi responden.

MERANCANG KUESIONER

Merancang formulir-formulir untuk input data sangat penting, demikian juga merancang format kuesioner juga sangat penting dalam rangka mengumpulkan informasi mengenai sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik.

Format kuesioner sebaiknya adalah :

  • Memberi ruang kosong secukupnya,
  • Menunjuk pada jarak kosong disekeliling teks halaman atau layar. Untuk meningkatkan tingkat respons gunakan kertas berwarna putih atau sedikit lebih gelap, untuk rancangan survey web gunakan tampilan yang mudah diikuti, dan bila formulirnya berlanjut ke beberapa layar lainya agar mudah menggulung kebagian lainnya.
  • Memberi ruang yang cukup untuk respons,
  • Meminta responden menandai jawaban dengan lebih jelas.
  • Menggunakan tujuan-tujuan untuk membantu menentukan format.
  • Konsisten dengan gaya.

2. Urutan Pertanyaan
Dalam menurutkan pertanyaan perlu dipikirkan tujuan digunakannya kuesioner dan menentukan fungsi masing-masing pertanyaan dalam membantu mencapai tujuan.

  • Pertanyaan-pertanyaan mengenai pentingnya bagi responden untuk terus, pertanyaan harus berkaitan dengan subjek yang dianggap responden penting.
  • Item-item cluster dari isi yang sama.
  • Menggunakan tendensi asosiasi responden.
  • Kemukakan item yang tidak terlalu kontroversial terlebih dulu.

 

4.   TEKNIK SAMPLING

Teknik sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Jika sampling dilakukan dengan metode yang tepat, analisis statistik dari suatu sampel dapat digunakan untuk menggeneralisasikan keseluruhan populasi. Metode sampling banyak menggunakan teori probabilitas dan teori statistika.

Tahapan sampling adalah:

  • Mendefinisikan populasi hendak diamati
  • Menentukan kerangka sampel, yakni kumpulan semua item atau peristiwa yang mungkin
  • Menentukan metode sampling yang tepat
  • Melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data)
  • Melakukan pengecekan ulang proses sampling

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL.

Pemilihan teknik pengambilan sampel merupakan upaya penelitian untuk mendapat sampel yang representatif (mewakili), yang dapat menggambarkan populasinya. Teknik pengambilan sampel tersebut dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu :

1. Probability Sampling (Random Sample)

Pada pengambilan sampel secara random, factor pemilihan atau penunjukan sampel yang mana akan diambil atas pertimbangan peneliti, disini dihindarkan. Bila tidak, akan terjadi bias. Dengan cara random, bias pemilihan dapat diperkecil, sekecil mungkin. Ini merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan sampel yang representatif.

Keuntungan pengambilan sampel dengan probability sampling adalah sebagai berikut:

-  Derajat kepercayaan terhadap sampel dapat ditentukan.

-  Beda penaksiran parameter populasi dengan statistik sampel, dapat diperkirakan.

-  Besar sampel yang akan diambil dapat dihitung secara statistik.

2. Non Probability Sample (Selected Sample)

Pemilihan sampel dengan cara ini tidak menghiraukan prinsip-prinsip probability. Pemilihan sampel tidak secara random. Hasil yang diharapkan hanya merupakan gambaran kasar tentana suatu keadaan.

Cara ini dipergunakan : Bila biaya sangat sedikit , hasilnya diminta segera, tidak memerlukan ketepatan yanq tingqi, karena hanya sekedar gambaran umum saja.

Cara-cara yang dikenal adalah sebagai berikut :

1. Sampel Dengan Maksud (Purposive Samping).

Pengambilan sampel dilakukan hanya atas dasar pertimbangan penelitinya saja yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil.

2. Sampel Tanpa Sengaja (Accidental Sampling).

Sampel diambil atas dasar seandainya saja, tanpa direncanakan lebih dahulu. Juga jumlah sampel yang dikehenadaki tidak berdasrkan pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan, asal memenuhi keperluan saja. Kesimpulan yang diperoleh bersifat kasar dan sementara saja.

3. Sampel Berjatah (Quota Sampling).

Pengambilan sampel hanya berdasarkan pertimbangan peneliti saja, hanya disini besar dan kriteria sampel telah ditentukan lebih dahulu. Misalnya Sampel yang akan di ambil berjumlah 100 orang dengan perincian 50 laki dan 50 perempuan yang berumur 15-40 tahun. Cara ini dipergunakan kalau peneliti mengenal betul daerah dan situasi daerah dimana penelitian akan dilakukan.

By Denny Abdul Basit Posted in KuLiah

Metode Ilmiah

PENGERTIAN METODE ILMIAH

Merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.

2.   UNSUR METODE ILMIAH

Unsur utama metode ilmiah adalah :

  1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
  2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan pengukuran)
  3. Prediksi (deduksilogis dari hipotesis)
  4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

 

3.   KRITERIA METODE ILMIAH
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta.
2. Bebas dari prasangka (bias)
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa.
4. Menggunakan hipotesa
5. Menggunakah ukuran objektif.
6. Menggunakan teknik kuantifikasi.

3.1. Berdasarkan Fakta
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.

3.2. Bebas dari Prasangka

Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.

3.3. Menggunakan Prinsip Analisa

Dalam memahami serta member! arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.

3.4. Menggunakan Hipotesa

Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.

3.5. Menggunakan Ukuran Obyektif

Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.

3.6. Menggunakan Teknik Kuantifikasi

Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating.

4. KARAKTERISTIK METODE ILMIAH

  • Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
  • Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
  • Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
  • Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
  • Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.

 

5. LANGKAH-LANGKAH atau TAHAPAN METODE ILMIAH

Metode ilmiah merupakan suatu prosedur (urutan langkah) yang harus dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah (science project). Secara umum metode ilmiah meliputi langkah-langkah berikut:

  • Observasi Awal
  • Mengidentifikasi Masalah
  • Merumuskan atau Menyatakan Hipotesis
  • Melakukan Eksperimen
  • Menyimpulkan Hasil Eksperimen

5.1. Setelah topik yang akan diteliti ditentukan, langkah pertama adalah melakukan observasi awal untuk mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut melalui pengalaman,

  • Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview, dll.
  • Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll.
  • Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.

5.2. Permasalahan merupakan pertanyaan ilmiah yang harus diselesaikan. Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan, bukan jawaban ya atau tidak.

  • Batasi permasalahan seperlunya agar tidak terlalu luas.
  • Pilih permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti.
  • Pilih permasalahan yang dapat diselesaikan secara eksperimen.

5.3. Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Yang perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan salah.

  • Gunakan pengalaman atau pengamatan lalu sebagai dasar hipotesis
  • Rumuskan hipotesis sebelum memulai proyek eksperimen

5.4. Eksperimen dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen yaitu variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.

Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.

  • Usahakan hanya satu variabel bebas selama eksperimen.
  • Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang diasumsikan konstan.
  • Lakukan eksperimen berulang kali untuk memvariasi hasil.
  • Catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.

5.5. Kesimpulan proyek merupakan ringkasan hasil proyek eksperimen dan pernyataan hasil eksperimen dengan hipotesis. Alasan-alasan untuk hasil eksperimen yang bertentangan dengan hipotesis termasuk di dalamnya. Jika dapat dilakukan, kesimpulan dapat diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.

Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis:

  • Jangan ubah hipotesi.
  • Jangan abaikan hasil eksperimen.
  • Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesua.
  • Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian.

source :

http://alphaomega86.tripod.com/metode_ilmiah.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah

By Denny Abdul Basit Posted in KuLiah